Senin, 04 Agustus 2014

Ana Uhibbuki Fillah

Antara cinta dan realita
antara kesempatan dan tanggungjawab.
“ ana uhibbuki fillah”

Bismillahirrohmanirrohiim

kau seperti bintang yang tak dapat kuraih.
layaknya matahari yang tak dapat lama ku pandang.
Tapi kau juga seperti angin yang memberi kesejukan hati.
Dan inginku adalah merajut kisah hidup ini menjadi indah bersamamu.
Hai bidadariku di sana,
ijinkan aku menikahimu dengan mahar iman dan takwaku pada ALLAH SWT.

Orangtua : Jadi kamu yang bernama Dewa yang mencari tahu alamat rumah ini kemarin?
Dewa : benar pak. Saya Dewa. Gusti Dewa Maulana Ramdhan.
Orangtua : Lalu apa maksud kedatanganmu ke sini?
Dewa : Kedatangan saya ke sini adalah dengan niat saya jatuh cinta kepada anak bapak. Dan saya minta izin kepada bapak untuk dapat menikahkan kami.
Orangtua : yakin kamu? kamu punya apa untuk menikahi anak saya? kamu sudah bekerja? Punya rumah apa tidak? mau dikasih makan apa nanti anak bapak sama kamu?
Dewa : saya memang hanya kuli pak. Tapi tabungan saya cukup untuk menikah. Dan saya akan lebih giat mencari nafkah. Bukankah ALLAH SWT adil pak dalam memberi rezeki baik kepada yang sudah menikah atau yang belum?
Orangtua : bapak paham. Tapi kalian itu masih muda dan biasanya yang seumuran kalian itu cuma pacaran. Coba deh berpikir rasional.
Dewa : saya adalah seorang muslim yang taat, sama seperti bapak. Saya berani datang kesini bermulakan keimanan dan keyakinan. Bagi saya, cinta adalah amanat yang terberat yang jika salah saya gunakan malah akan jadi azab bagi diri saya sendiri. Saya tidak ingin cinta saya ternodai oleh nafsu. Saya ingin cinta ini dapat terbingkai dengan syari'at. Yakni dengan ikatan pernikahan. Jika bapak didatangi pemuda setelah saya yang mengatakan ingin menjadi pacar anak bapak,apakah dengan alasan sama-sama masih muda,bapak rela anak bapak membina hubungan maksiat tersebut? Apakah bapak tidak ingin melindungi anak perempuan bapak dari para pemuda di luar sana yang belum tentu memiliki jiwa tanggungjawab? Dan menikahi anak bapak adalah pemikiran paling rasional bagi saya.
Orangtua : baiklah, kamu datang lagi bersama walimu. Inshaallah kita akan memulai proses ta'aruf. Dan jika putri saya setuju,maka saya sudah tidak memiliki alasan lagi untuk menghalangi kalian bersatu atas nama cinta.

Dan hingga hari itu tiba,suatu hari di mana aku dan kamu berikrar di hadapan ALLAH Swt. Inilah yang akan menjadi bukti cinta yang sesungguhnya dariku untukmu, yang tidak hanya sebatas kado pemberian, coklat atau bunga hingga syair pujangga lama yang terangkai.

Berdasarkan Firman ALLAH Swt
“ Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak ( menikah ) dari hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, maka ALLAH akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan ALLAH Maha Luas ( pemberian-Nya ) dan Maha Mengetahui.“ (Qs.An Nuur 32)

Menikahi orang yang kita cintai adalah pilihan.
Mencintai orang yang kita nikahi adalah kewajiban.
( Sa'id Rosyadi )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar