Rokok selalu menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Karena sampai saat ini banyak sekali kasus kematian yang disebabkan karena rokok. Tapi ada juga yang hidupnya bergantung dari barang satu ini. Ada yang bilang begini, merokok itu tidak memberi manfaat karena ngerokok itu sama saja kayak nyayangin pacar orang, nyakitin tapi tetep aja kita lakuin. Ngerokok juga sama kayak buang-buang energi untuk sesuatu hal yang sia-sia. Ngerokok itu bukan saja nyakitin diri sendiri tapi juga bisa nyakitin oranglain secara fisik dan psikis. Secara fisik kita tahu penyakit apa saja yang bisa ditimbulkan dari kebiasaan ngerokok. Secara psikis juga rokok bisa bikin hancur rumah tangga. Misalnya begini, ketika sepasang suami istri makan malam dan si istri ngajakin pulang si suami ngejawab ntar deh sebatang lagi. Si istri nyeletuk, rokok aja yang bisa membunuhmu kamu sayang-sayang, aku yang menyayangimu sudah g pernah kamu sayang. Kan ujung-ujungnya ribut kalau udah gini. Tapi sebahaya-bahayanya rokok masih lebih bahaya kentut. Kalau rokok itu sudah pasti membunuh secara perlahan dan terang-terangan kalau kentut iti lebih kejam dari pada membunuh apalagi kalau kentutnya tidak berbunyi. Kentut yang tidak berbunyi biasanya menimbulkan fitnah dan fitnah itu kan lebih kejam daripada pembunuhan. Tapi bisa jadi bahan renungan begini “ Jika kentut di depan orang banyak kita malu, masa ngerokok di depan orang kita ga malu?”.
Tapi, menurut penelitian terbaru rokok itu bisa membunuh kanker. Dan itu yang tidak pernah dibahas selama ini. Jadi begini, orang ngerokok bisa terkena kanker terus meninggal dan otomatis kankernya pun akan ikut habis. Rokok itu dilarang karena asapnya. Lalu bagaimana dengan tukang sate yang asapnya lebih banyak? Mungkin karena tukang sate ga ada yang keluar masuk angkot kayak perokok yang ga punya etika. Sebenarnya zat dalam rokok yang bikin ketagihan itu bukan nikotin tapi 'tar'. Tar habis makan satu batang, tar habis minum satu lagi, tar habis mandi satu lagi.hahaha
Ada satu cara bagaimana menutup pabrik rokok tanpa bikin pegawainya protes yaitu dengan menutup pabrik korek api. Coba kalau kita punya rokok tapi ga ada korek itu paling menyebalkan bagi kebanyakan perokok. Tapi sebenarnya asap rokok bukanlah asap yang berbahaya jika dibandingkan dengan asap obat nyamuk bakar. Tapi kenapa ga ada yang protes sama hal yang satu ini. Intinya keduanya tidak baik untuk kesehatan.
Kenapa sosialisasi bahaya merokok tidak mendapat respon baik dari masyarakat karena sudah biasa sekali semua panca indera kita dikepung dengan asap rokok yang dimulai sejak masa remaja bahkan dari anak-anak. Bagi sebagian orang ngerokok itu jadi bukti kalau dirinya sudah dewasa, bisa melawan peraturan, ngerasa jantan, bisa menarik lawan jenis dsb. Orang ngerokok itu selalu punya pembelaan begini ketika ditanya apa sih enaknya ngerokok “ justru itu gua ga tahu enaknya dimana, makanya gua ngerokok terus.”
Banyak buku pengetahuan yang menyebutkan jika ngerokok itu tidak akan sakit-sakitan ketika tua karena mati muda. Atau rumahnya bebas maling karena biasanya perokok itu punya penyakit bengek atau batuk yang membuat maling mikir kalau rumah itu ada orangnya. Atau dalam kasus lain perokok tidak akan dikejar anjing karena ga kuat lari jadi langsung digigit. Masih mau ngerokok? Tapi hampir semua negara perekonomiannya ditopang oleh cukai rokok. Di Indonesia sendiri, pemerintah meraup 80 triliun tiap tahun hanya dari rokok. Pertanyaannya begini, lebih besar mana pendapatan negara dari cukai rokok dengan biaya kesehatan yang harus dikeluarkan pemerintah untuk masyarakat? Ada juga sebuah studi yang mengatakan Indonesia bakal bangkrut jika tidak ada pendapatan dari cukai rokok. Menurut saya terlalu berlebihan. Indonesia ini kan kaya, jadi masih banyak komoditi lain yang bisa dijadikan sumber pendapatan negara jika digarap dengan serius. Tapi Saya membayangkan betapa bersihnya udara tanpa rokok. Dan seharusnya pemerintah itu tidak melarang rokok. Karena ingat, sesuatu yang dilarang justru yang paling sering dilanggar atau dicari. Tapi pasti ada banyak kepentingan pemerintah dibalik pelarangan ini. Entah politik maupun bisnis.
Berhenti merokok itu bukan masalah kecanduan nikotin atau tarnya. Tapi masalah kebiasaan saja. Jadi hilangkan kebiasaannya dulu. Ada banyak cara membatasi rokok. Pertama, harga rokok dibikin mahal seperti di luar negeri. Karena di Indonesia harga rokok termasuk murah. Kedua, dijual terbatas dan tempatnya ga banyak. Sekarang gampang banget ngedapetin rokok di Indonesia. Tiap meter ada mulai dari toko, mini market, mall sampai pengecer. Yang ketiga, pengawasan usia harus diperketat. Toko harus berani menolak pembeli dibawah umur meski pun disuruh orangtuanya atau siapalah. Jangan ada pedagang rokok di area sekolah baik di dalam dan di luar gedung sebagai bahan edukasi bahwa tempat pendidikan harus steril dari asap rokok.
Faktanya, biaya pemerintah untuk kesehatan masyarakat lebih besar dari pendapatan pemerintah lewat cukai rokok yaitu 250 triliun banding 80 triliun pertahun. Jadi lebih berat bebannya dan sudah seberat itu pun masih harus ada 500 orang Indonesia mati karena rokok setiap harinya. Ada yang mengatakan hal ini menyangkut nasib petani tembakau kita yang akan dirugikan. Nyatanya import tembakau Indonesia lebih tinggi daripada ekspor. Ekspor tembakau Indonesia mencapai ribuan ton pertahun sementara produksi dalam negeri hanya 2,7 ton. Jadi, sebenarnya yang berkepentingan adalah luar negeri daripada Indonesia sebagai pangsa pasar yang menggiurkan. Data di Indonesia mencatat, anak usia 15-19 tahun 43% adalah perokok dan mulai belajar merokok dari usia 10-14 tahun.
Merokoklah silahkan tapi jangan merugikan orang lain dengan cara hisaplah, karena merokok bagi sebagian orang didengungkan sebagai hak. Tapi mendapatkan udara yang bersih dari tar, karbonmonoksida dan nikotin serta penyebab kanker jauh di atas itu semua. Itu adalah hak asasi manusia. Jadi, kalau tak ingin cepat hembuskan nafas pikirkanlah untuk berhenti sekarang juga menghembuskan asap rokok. Seperti kata Pak Tekle “matikan rokok sebelum rokok mematikan Anda.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar